Jumat, 01 Juli 2011

VICON : Rilis Inflasi Bulan Juni 2011, Ekspor Impor Mei 2011, Pariwisata, Nilai Tukar Petani, Produksi Padi dan Kemiskinan

Baru-baru ini BPS merilis Berita Resmi Statistik (BRS) pada tanggal 1 Juli 2011, diantaranya Inflasi Bulan Juni 2011, Ekspor dan Impor Nasional Bulan Mei 2011, Pariwisata dan Transportasi Bulan Mei 2011, Nilai Tukar Petani dan Harga Gabah serta Upah Buruh Bulan Juni 2011, Produksi Padi, Jagung dan Kedelai 2010/2011, Harga perdagangan Besar dan Profil Kemiskinan di Indonesia Bulan Maret 2011 Angka Kemiskinan. Vicon berjalan dari pukul 09.00 WIB sampai dengan selesai, dilanjutkan rilis BRS untuk semua daerah.

Di Banten, rilis dipimpin langsung oleh Kepala BPS Provinsi Banten, yang merilis 4 BRS, diantaranya Inflasi Bulan Juni, Ekspor dan Impor Banten, Nilai Tukar Petani dan Harga Gabah, dan Profil Kemiskinan di Banten Bulan maret 2011.

Inflasi Bulan Juni 2011 di Indonesia

Pada bulan Juni 2011 terjadi inflasi sebesar 0,55 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 126,50. Dari 66 kota IHK, 65 kota mengalami inflasi dan 1 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Ambon 3,76 persen dengan IHK 133,69 dan terendah terjadi di Padang Sidempuan 0,04 persen dengan IHK 126,17.




Sedangkan deflasi hanya terjadi di Tanjung Pinang 0,57 persen dengan IHK 126,52. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada kelompok bahan makanan 1,27 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,41 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,30 persen; kelompok sandang 0,57 persen; kelompok kesehatan 0,41 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,18 persen dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,15 persen.




Laju inflasi tahun kalender (Januari-Juni) 2011 sebesar 1,06 persen dan laju inflasi year on year (Juni 2011 terhadap Juni 2010) sebesar 5,54 persen. Komponen inti pada bulan Juni 2011 mengalami inflasi sebesar 0,33 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Juni) 2011 sebesar 1,91 persen dan laju inflasi komponen inti year on year (Juni 2011 terhadap Juni 2010) sebesar 4,63 persen.


Ekspor Impor Indonesia

Nilai ekspor Indonesia Mei 2011 mencapai US$18,33 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 10,76 persen dibanding ekspor April 2011.Sementara bila dibanding Mei 2010 ekspor mengalami peningkatan sebesar 45,29 persen. Ekspor nonmigas Mei 2011 mencapai US$14,22 miliar, naik 10,03 persen dibanding April 2011, sedangkan dibanding ekspor Mei 2010 meningkat 38,76 persen.



Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Mei 2011 mencapai US$80,28 miliar atau meningkat 33,37 persen dibanding periode yang sama tahun 2010, sementara ekspor nonmigas mencapai US$64,25 miliar atau meningkat 31,31 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar Mei 2011 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$665,8 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada karet dan barang dari karet sebesar US$87,2 juta.




Ekspor nonmigas ke Cina Mei 2011 mencapai angka terbesar yaitu US$1,81 miliar, disusul Jepang US$1,53 miliar dan Amerika Serikat US$1,32 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 32,75 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$2,02 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-Mei 2011 naik sebesar 36,28 persen dibanding periode yang sama tahun 2010, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 21,27 persen serta ekspor hasil tambang dan lainnya naik 16,19 persen.





Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada periode Januari-Maret 2011 berasal dari Kalimantan Timur dengan nilai US$7,32 miliar (16,13 persen), diikuti Jawa Barat sebesar US$6,37 miliar (14,04 persen) dan Jawa Timur sebesar U$4,45 miliar (9,81 persen).

Nilai impor Indonesia Mei 2011 sebesar US$14,83 miliar atau turun 0,42 persen dibanding impor April 2011 yang besarnya US$14,89 miliar, sedangkan jika dibanding impor Mei 2010 (US$9,98 miliar) naik 48,54 persen. Sementara itu, selama Januari-Mei 2011 nilai impor mencapai US$68,51 miliar atau meningkat 33,86 persen jika dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya (US$51,18 miliar).

sedangkan impor nonmigas selama Januari- Impor nonmigas Mei 2011 sebesar US$11,19 miliar atau naik US$0,26 miliar (2,34 persen) dibanding impor nonmigas April 2011 (US$10,93 miliar), Mei 2011 mencapai US$52,53 miliar atau naik 29,88 persen dibanding impor nonmigas periode yang sama tahun 2010 (US$40,44 miliar).

Impor migas Mei 2011 sebesar US$3,63 miliar atau turun US$0,32 miliar (8,08 persen) dibanding impor migas April 2011 (US$3,95 miliar), sedangkan impor migas selama Januari-Mei 2011 mencapai US$15,98 miliar atau naik 48,89 persen dibanding impor migas periode yang sama tahun sebelumnya
(US$10,73 miliar).

Nilai impor nonmigas terbesar Mei 2011 adalah golongan barang mesin dan peralatan mekanik dengan nilai US$1,91 miliar. Nilai ini turun 0,79 persen (US$15,3 juta) dibanding impor golongan barang yang sama April 2011 (US$1,93 miliar). Sementara itu, impor golongan barang tersebut selama Januari-Mei 2011 mencapai US$9,10 miliar atau meningkat 21,76 persen (US$1,63 miliar) dibanding impor golongan barang yang sama tahun sebelumnya (US$7,47 miliar).

Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Mei 2011 masih ditempati oleh Cina dengan nilai US$9,74 miliar dengan pangsa 18,55 persen, diikuti Jepang US$7,08 miliar (13,48 persen) dan Thailand US$4,28 miliar (8,15 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai 23,19 persen, sementara dari Uni Eropa sebesar 8,92 persen.

Nilai impor semua golongan penggunaan barang selama Januari-Mei 2011 dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing meningkat, yaitu impor barang konsumsi sebesar 39,21 persen, bahan baku/penolong sebesar 37,71 persen, dan barang modal sebesar 17,28 persen.

Pariwisata di Indonesia

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada mencapai 600,2 ribu orang atau naik tipis 0,03 persen dibanding jumlah wisman Mei 2010 yang sebanyak 600,0 ribu orang. Apabila dibandingkan dengan April 2011, jumlah wisman Mei 2011 mengalami penurunan 1,30 persen. Jumlah wisman ke Bali melalui bandara Ngurah Rai pada Mei 2011 naik 4,73 persen dibanding Mei 2010,yaitu dari 199,4 ribu orang menjadi 208,8 ribu orang pada Mei 2011. Sementara itu, jika dibanding April 2011, jumlah wisman ke Bali mengalami penurunan sebesar 6,95 persen.

Secara kumulatif (Januari- 1, jumlah wisman mencapai 2,92 juta orang atau naik 5,64 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2010 sebanyak 2,77 juta orang.Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di provinsi pada Mei 2011 mencapai rata-rata 52,13 persen, atau naik 1,11 poin dibanding TPK Mei 2010 sebesar 51,02 persen. Begitu pula jika dibanding TPK hotel April 2011, TPK hotel berbintang pada Mei 2011 mengalami kenaikan 0,03 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 20 provinsi selama Mei 2011 adalah 1,96 hari, naik 0,06 hari dibanding keadaan Mei 2010.


Nilai Tukar Petani di Indonesia

Nilai Tukar Petani (NTP) nasional Juni 2011 sebesar 104,79 atau naik 0,28 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan naiknya NTP Subsektor Tanaman Pangan, Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat, dan Subsektor Perikanan masing-masing sebesar 0,74 persen; 0,18 persen dan 0,17 persen.

Pada Juni 2011, NTP Provinsi Lampung mengalami kenaikan tertinggi (0,97 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Bengkulu terjadi penurunan terbesar (1,36 persen) dibanding penurunan NTP provinsi lainnya.

Pada Juni 2011, terjadi inflasi di daerah perdesaan di Indonesia sebesar 0,40 persen terutama dipicu oleh naiknya indeks Subkelompok Bahan Makanan.

Harga Perdagangan Besar Nasional

Pada bulan Juni 2011 Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas naik sebesar 0,33 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB terbesar terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 1,12 persen. IHPB Bahan Baku dan Barang Konsumsi pada bulan Juni 2011 masing-masing mengalami kenaikan sebesar 0,21 persen dan 0,48 persen, sedangkan IHPB Barang Modal turun sebesar 0,03 persen.

IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Juni 2011 naik sebesar 0,04 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga barang-barang dari karet 1,62 persen, kaca lembaran 0,63 persen, barang-barang plastik 0,60 persen, dan kayu gergajian dan awetan 0,48 persen.

Produksi Padi, Jagung dan Kedelai di Indonesia

A. PADI

Produksi padi tahun 20 (ATAP) sebesar 66,47 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat sebanyak 2,07 juta ton (3,22 persen) dibandingkan tahun 2009. Produksi padi tahun 201 (ARAM II) diperkirakan sebesar 68,06 juta ton GKG, meningkat sebanyak 1,59 juta ton (2,40 persen) dibandingkan tahun 2010. Kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena peningkatan luas panen seluas 313,15 ribu hektar (2,36 persen) dan produktivitas sebesar 0,02 kuintal/hektar (0,04 persen).

B. JAGUNG

Produksi jagung tahun 2010 (ATAP) sebesar 18,33 juta ton pipilan kering, meningkat sebanyak 697,89 ribu ton (3,96 persen) dibandingkan tahun 2009. Produksi jagung tahun 2011 (ARAM II) diperkirakan sebesar 17,39 juta ton pipilan kering, mengalami penurunan sebanyak 935,39 ribu ton (5,10 persen) dibandingkan tahun 2010. Penurunan produksi diperkirakan terjadi karena penurunan luas panen seluas 235,93 ribu hektar (5,71 persen), sedangkan produktivitas naik sebesar 0,28 kuintal/hektar (0,63 persen).

C. KEDELAI

Produksi kedelai tahun 2010 (ATAP) sebesar 907,03 ribu ton biji kering, menurun sebanyak 67,48 ribu ton (6,92 persen) dibandingkan tahun 2009. Produksi kedelai tahun 2011 (ARAM II) diperkirakan sebesar 819,45 ribu ton biji kering, menurun sebanyak 87,59 ribu ton (9,66 persen) dibandingkan tahun 2010. Penurunan produksi kedelai diperkirakan terjadi karena turunnya luas panen seluas 68,79 ribu hektar (10,41 persen), sedangkan produktivitas mengalami kenaikan sebesar 0,11 kuintal/hektar (0,80 persen).

Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2011

Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Indonesia pada Maret 2011 mencapai 30,02 juta orang (12,49 persen), turun 1,00 juta orang (0,84 persen) dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2010 yang sebesar 31,02 juta orang (13,33 persen).

Selama periode Maret 2010?Maret 2011, penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang sekitar 0,05 juta orang (dari 11,10 juta orang pada Maret 2010 menjadi 11,05 juta orang pada Maret 2011), sementara di daerah perdesaan berkurang sekitar 0,95 juta orang (dari 19,93 juta orang pada Maret 2010 menjadi 18,97 juta orang pada Maret 2011).

Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah selama periode ini. Penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2010 sebesar 9,87 persen, menurun sedikit menjadi 9,23 persen pada Maret 2011. Di lain pihak, penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2010 sebesar 16,56 persen, juga menurun sedikit menjadi 15,72 persen pada Maret 2011.

Peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan pada Maret 2010 dan Maret 2011 jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan bukan makanan lainnya), yaitu masing-masing sebesar 73,50 persen pada Maret 2010 dan sebesar 73,52 persen pada Maret 2011.

Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan adalah beras, rokok kretek filter, gula pasir, telur ayam ras, mie instan, tempe, bawang merah, daging ayam ras ,dan tahu. Untuk komoditi bukan makanan adalah biaya perumahan, listrik, pendidikan, dan angkutan.

Pada periode Maret 2010?Maret 2011, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. P1 menurun dari 2,21 pada Maret 2010 menjadi 2,08 pada Maret 2011, dan P2 menurun dari 0,58 pada Maret 2010 menjadi 0,55 pada Maret 2011. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin mendekati Garis Kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit..

Untuk selengkapnya silakan download di :

http://www.bps.go.id/brs_file/inflasi-01jul11.pdf
http://www.bps.go.id/brs_file/exim-01jul11.pdf
http://www.bps.go.id/brs_file/pariwisata-01jul11.pdf
http://www.bps.go.id/brs_file/ntp-01jul11.pdf
http://www.bps.go.id/brs_file/ihpb-01jul11.pdf
http://www.bps.go.id/brs_file/kemiskinan-01jul11.pdf


Inflasi Bulan Juni 2011 di Banten

Memasuki bulan Juni tahun 2011, harga barang-barang/jasa kebutuhan pokok masyarakat di Banten secara umum mengalami kenaikan, hal ini tercermin dari naiknya angka Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 126,90 pada bulan Mei 2011 menjadi 127,35 pada bulan Juni 2011 atau terjadi perubahan indeks (inflasi) sebesar 0,35 persen.

Inflasi terjadi karena dipicu oleh naiknya Indeks kelompok bahan makanan 1,05 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,26 persen; kelompok sandang 0,61 persen; kelompok kesehatan 0,06 persen serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,07 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau yakni -0,02 persen dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan -0,01 persen.

Laju inflasi tahun kalender (Januari – Juni 2011) sebesar 0,82 persen dan Inflasi “Year on Year” (IHK Juni 2011 terhadap IHK Juni 2010) tercatat 4,73 persen.

Ekspor Impor Banten

Nilai ekspor Banten pada April 2011 meningkat 13,37 persen dibanding ekspor Maret 2011, yaitu dari sebelumnya sebesar US$836,36 juta menjadi US$948,18 juta, sementara dibanding April 2010 nilai ekspor mengalami peningkatan sebesar 39,67 persen.

Ekspor nonmigas April 2011 mengalami penurunan 2,30 persen dibanding Maret 2011, dari US$807,67 juta menjadi US$789,10 juta, sedangkan dibanding ekspor April 2010 meningkat 19,81 persen. Ekspor migas April 2011 meningkat 454,32 persen dibanding bulan sebelumnya, dari US$28,70 juta menjadi US$159,07 juta, sedangkan dibanding ekspor April 2010 meningkat 686,55 persen.

Nilai ekspor nonmigas terbesar pada April 2011 berasal dari golongan barang alas kaki (HS 64) yaitu mencapai US$179,10 juta, disusul oleh tembaga (HS 74) dan plastik dan barang dari plastik (HS 39), masing-masing sebesar US$63,10 juta dan US$62,56 juta. Negara tujuan ekspor nonmigas terbesar pada April 2011 adalah Amerika Serikat dengan nilai ekspor US$157,96 juta, disusul oleh Jepang sebesar US$61,06 juta, sementara untuk tujuan negara-negara ASEAN dan Uni Eropa masing-masing sebesar US$150,28 juta dan US$138,67 juta.

Menurut sektor, nilai ekspor ekspor hasil pertanian mengalami peningkatan sebesar 36,92 persen dibanding bulan sebelumnya, sebaliknya hasil industri dan hasil tambang dan lainnya pada April 2011 masing-masing turun 1,65 persen dan 98,86 persen.

Menurut pelabuhan, nilai ekspor April 2011 untuk Pelabuhan Tanjung Priok mencapai US$682,21 juta, disusul oleh Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Tanjung Leneng, masing-masing sebesar US$166,62 juta dan US$60,03 juta.

Nilai impor Banten pada April 2011 naik 5,03 persen dibanding Maret 2011, yaitu dari sebelumnya US$912,90 juta menjadi US$958,78 juta, sedangkan dibanding impor bulan yang sama tahun 2010, nilai impor April 2011 mengalami peningkatan sebesar 55,93 persen.

Impor nonmigas April 2011 meningkat 21,63 persen dari US$593,53 juta pada bulan sebelumnya mencapai US$721,92 juta, sementara dibanding April 2010, impor nonmigas mengalami peningkatan 74,35 persen. Impor migas pada April 2011 mengalami penurunan sebesar 25,83 persen menjadi US$236,86 juta, dari sebelumnya mencapai US$319,37 juta pada Maret 2011, sedangkan dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, impor migas juga meningkat 17,94 persen. Nilai impor nonmigas terbesar April 2011 berasal dari golongan barang bahan kimia organik (HS 29) yang mencapai US$327,01 juta dari sebelumnya US$266,40 juta atau naik US$60,61 juta (22,75 persen) dibanding bulan sebelumnya.

Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar pada April 2011 adalah Thailand dengan nilai impor sebesar US$159,42 juta, diikuti oleh China dan Singapura masing-masing sebesar US$87,29 juta dan US$85,46 juta, sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai US$303,58 juta. Nilai impor menurut golongan penggunaan barang pada April 2011 dibanding bulan sebelumnya mengalami peningkatan untuk bahan baku/penolong dan barang barang modal masing-masing sebesar 0,08 persen dan 490,02 persen, sementara untuk golongan konsumsi mengalami penurunan sebesar 26,51 persen.

Menurut pelabuhan bongkar, nilai impor terbesar untuk April 2011 berasal dari Pelabuhan Merak yang mencapai US$671,07 juta (69,99 persen), disusul oleh Pelabuhan Cigading dengan impor sebesar US$282,86 juta (29,50 persen).

Nilai Tukar Petani di Banten

Pada Juni 2011 NTP Banten adalah 103,86 yang berarti mengalami penurunan sebesar 0,37%
dibandingkan NTP bulan Mei 2011 sebesar 104,24. Empat subsektor mengalami penurunan indeks yaitu tanaman pangan turun 0,16% dari 103,53 menjadi 103,37, hortikultura turun 1,33% dari 109,62 menjadi 108,17, peternakan turun 0,28% dari 101,86 menjadi 101,57 dan perikanan yang turun 0,19% dari 98,75 menjadi 98,57. Sedangkan subsektor yang mengalami kenaikan indeks adalah subsektor tanaman perkebunan rakyat yang naik 0,68% dari 102,91 menjadi 103,61.

Pada Juni 2011 terjadi Inflasi di pedesaan sebesar 0,66%. Dari 7 kelompok pengeluaran rumahtangga, yamg menjadi pemicu terbesar inflasi pedesaan di Provinsi Banten adalah kelompok makanan jadi dengan persentase (0.92%) disusul oleh bahan makanan (0,69%), perumahan (0,65%), sandang (0,48%), pendidikan, rekreasi & olah raga (0,38%), transportasi dan komunikasi (0,25%) dan kesehatan (0,03%).

Berdasarkan observasi sebanyak 52 transaksi gabah di 3 Kabupaten (Pandeglang, Serang dan
Lebak), rata-rata harga gabah di tingkat petani pada Juni 2011 dibandingkan keadaan Mei kualitas Gabah Kering Panen (GKP) turun sebesar 2,95 % sedangkan Gabah Kualitas Rendah mengalami kenaikan harga sebesar 4,28%. Pada bulan ini observasi gabah di tingkat petani maupun penggilingan untuk kualitas GKG tidak ditemukan.

Rata-rata harga gabah bulan Juni 2011 di tingkat penggilingan untuk kualitas GKP Rp. 2.957,- per kg dan berada diatas HPP. Untuk gabah kualitas rendah rata-rata Rp 2.581,- per kg di tingkat petani dan Rp. 2.696,- per kg di tingkat penggilingan.

Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp 2.400,- per kg dijumpai di Kecamatan Cipanas Kabupaten Lebak dengan Kualitas GKP, sedangkan harga tertinggi sebesar Rp. 3.400,- per kg dijumpai di Kecamatan Cipanas Kabupaten lebak untuk kualitas GKP.

Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai di Banten

Angka Tetap (ATAP) produksi padi Provinsi Banten tahun 2010 sebesar 2,05 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat sebesar 199,04 ribu ton (10,76 persen) dibandingkan produksi padi tahun 2009. Tahun 2011 diperkirakan produksi padi meningkat sebesar 16,49 ribu ton (0,80 persen) dibandingkan tahun 2010, yaitu mencapai 2,064 juta ton GKG.

ATAP produksi jagung tahun 2010 sebesar 28,56 ribu ton pipilan kering, naik sebesar 1,47 ribu ton (5,45 persen) dibanding produksi tahun 2009. Sedangkan tahun 2011, produksi jagung diperkirakan hanya sebesar 14,47 ribu ton pipilan kering atau menurun sebesar 14,09 ribu ton (49,35 persen) dibandingkan dengan produksi 2010.

ATAP produksi kedelai tahun 2010 sebesar 11,66 ribu ton biji kering, menurun tajam sebesar 4,22 ribu ton (26,59 persen) dibandingkan produksi tahun 2009. Sedangkan produksi kedelai tahun 2011 diperkirakan sebesar 4,89 ribu ton biji kering atau menurun sebesar 6,77 ribu ton (58,03 persen) dibandingkan dengan produksi 2010.

Profil Kemiskinan di Banten

Jumlah penduduk miskin di Banten mengalami penurunan sebanyak 67.673 orang. Penduduk miskin di Banten keadaan Maret 2011 tercatat sebanyak 690.490 orang (6,32 persen). Sedangkan pada periode yang sama setahun yang lalu, penduduk miskin di Banten tercatat sebanyak 758.163 orang (7,16 persen).

Pada periode Maret 2010-Maret 2011, jumlah penduduk miskin di perkotaan mengalami kenaikan sedangkan daerah perdesaan mengalami penurunan. Jumlah penduduk miskin penduduk miskin di perkotaan sebanyak 335.537 orang (4,61 persen) dan di pedesaan
sebanyak 354.963 orang (9,75 persen).

Selama periode satu tahun, Indeks kedalaman kemiskinan (P1) mengalami penurunan, sedangkan Indeks keparahan Kemiskinan (P2) mengalami kenaikan. Pada tahun 2011, Indeks Kedalaman Kemiskinan sebesar 0,90. Sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan sebesar 0,20.

Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada Maret 2011, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 71,03 persen, sedangkan pada Maret 2010 sebesar 71,30 persen. Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan adalah beras, rokok kretek, mie instan. Sedangkan komoditi bukan makanan adalah biaya perumahan, pendidikan, dan angkutan.

Selengkapnya untuk Berita Resmi Statistik (BRS) Banten dapat didownload di :

http://banten.bps.go.id/pdf/26inflasi-072011.pdf
http://banten.bps.go.id/pdf/27exim-072011.pdf
http://banten.bps.go.id/pdf/28ntp-072011.pdf
http://banten.bps.go.id/pdf/29aram-072011.pdf
http://banten.bps.go.id/pdf/30miskin-072011.pdf

===

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar