Jumat, 29 Juli 2011

Bagaimana Menetapkan Awal Puasa ?

Puasa Ramadhan wajib dimulai apabila dijumpai salah satu hal berikut:

1. Terlihatnya hilal (bulan sabit awal bulan) Ramadhan.

Dalam sebuah hadits Rasullah bersabda, "Puasalah mulai hilal (Ramadhan) terlihat, dan berbukalah mulai hilal (Syawal) terlihat" (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Daruquthni, dll.).

2. Apabila Bulan Sya'ban telah genap 30 hari.
3. Apabila hilal tidak mungkin terlihat, karena mendung atau kabut.

Dalam hal ini ulama berbeda pendapat. Menurut mazhab Hanafi, Syafi'i dan Maliki, tidak boleh puasa pada tanggal 30 Sya'ban dengan berlandaskan hadits, "Apabila tidak dimungkinkan melihat hilal, maka sempurnakanlah Sya'ban 30 hari" (H.R. Bukhari dll.). Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa Rasulullah melarang puasa pada hari yang diragukan, tanggal 30 Sya'ban merupakan hari yang diragukan apabila tidak dimungkinkan melihat hilal. Kondisi ini juga termasuk pada saat penanggalan/tarikh (ahli hisab) telah menyatakan bahwa hilal muncul dan terbenam sebelum matahari terbenam pada tanggal 29 Sya'ban, sehingga tidak mungkin dilakukan rukyah.


Namun sebagian ulama berpendapat apabila penanggalan (ahli hisab) menyatakan dengan yakin bahwa hilal sudah bisa dilihat pada tanggal 29 Sya'ban hingga setelah matahari terbenam dan memungkinkan rukyah bila tidak ada halangan, maka bisa menggunakan pedoman hisab. Pendapat ini memperbolehkan menggunakan hisab dalam menentukan awal bulan Ramadhan.

Persoalannya, apakah perbedaan tempat mempengaruhi munculnya hilal? Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Jumhur ulama (mayoritas ulama) menyatakan bahwa apabila hilal Ramadhan sudah terlihat di manapun di belahan bumi ini, maka telah wajib bagi umat Islam untuk memulai puasa. Kamal bin Humam (ulama Hanafi) mengatakan, "Apabila hilal Ramadhan telah terlihat di Mesir maka umat Islam di seluruh dunia telah wajib puasa. Apabila hilal terlihat di belahan Barat maka mereka yang ada di belahan Timur dunia telah wajib puasa, dan seterusnya. Sesuai dengan hadits yang mengatakan, 'Berpuasalah mulai hilal puasa terlihat'. Ini menunjukkan ketentuan umum dan di manapun ketika ada orang yang telah melihat hilal".

Sementara itu, Mazhab Syafi'i mengatakan bahwa perbedaan tempat mempengaruhi munculnya hilal. Apabila hilal terlihat di satu negara, belum tentu terlihat di negara lain. Dalam hal ini puasa hanya wajib bagi umat Islam yang berada di negeri di mana hilal Ramadhan terlihat dan tidak wajib bagi meraka yang tinggal di negeri yang tidak terlihat hilal di sana. Apabila negara-negara tersebut berdekatan, seperti Indonesia dan Malaysia, misalnya, maka dianggap sebagai satu wilayah.

Sebagian besar ulama saat ini mengutamakan (mentarjih) pendapat pertama yang menyatakan tidak ada pengaruh tempat dalam masalah hilal. Perbedaan waktu yang hanya 2 sampai 6 jam dari satu tempat ke tempat lainnya menunjukkan bahwa dua wilayah tersebut mempunyai malam dan hari yang bersamaan, seperti antara Mesir, Pakistan, Indonesia dan Malaysia.

Pada zaman sekarang ini lebih mudah mengetahui hilal karena media komunikasi yang telah maju dan canggih. Kita bisa mendengarkan radio atau televisi untuk mengetahui bahwa hilal telah terlihat di salah satu negara Islam, sehingga kita bisa memulai puasa. Untuk lebih berhati-hati, tentunya akan lebih afdhal kita mulai puasa apabila telah ada yang melihat hilal di negeri Islam manapun. Pendapat ini juga mencerminkan semangat kesatuan dan persatuan umat Islam, bahkan pada masalah mulainya bulan Ramadhan.

Meskipun demikian, kita juga harus tetap menghargai pendapat yang menyatakan mungkinnya perbedaan waktu dimulainya puasa dari satu tempat ke tempat lainnya. Demikian juga keputusan pemerintah/negara yang menentukan awal bulan Ramadhan, baik dengan landasan rukyah atau hisab, selayaknya tetap kita hargai. Dan bagi orang awam tentu terserah mana saja yang lebih cocok untuk diikuti menurutnya .

PENENTUAN AWAL RAMADHAN METODE HISAB RUKYAT ASTRONOMI Melihat Awal Ramadhan dengan Stellarium Aplikasi Komputer

Dalam menentukan awal puasa 1 Ramadhan terdapat tiga metode akurat yaitu Metode Hisab (perhitungan matematika astronomi), metode rukyat (melihat bulan baru) dan metode aplikasi Stellarium (aplikasi komputer ilustrasi astronomi). Pemerintah (Menag) menetapkan tanggal awal ramadan biasanya menggunakan kombinasi hisab dan rukyat.

Kaum Muslim di seluruh dunia bakal menjalani salah satu rukun Islam yakni berpuasa di bulan Ramadhan. Namun, penentuan 1 Ramadhan membutuhkan perhitungan matang dan akurat.

Hal itu disebabkan kalender Islam (Qomariyah) merujuk pada perputaran bulan sedangkan perhitungan kalender masehi, kalender yang digunakan di Indonesia merujuk pada perputaran matahari (Syamsiyah). Sebabnya, penentuan 1 Ramadhan harus didahului dengan memastikan apakah bulan baru telah muncul di ufuk timur atau dalam ajaran Islam disebut (hilal).

Di Indonesia, terdapat dua metode yang dipergunakan dalam penetapan awal puasa ramadhan. Metode pertama dikenal dengan istilah rukyat. Metode ini menggunakan pandangan mata apakah bulan baru telah muncul saat maghbrib atau tidak.

Metode kedua dikenal dengan istilah hisab. Metode hisab menentukan 1 Ramadhan dengan perhitungan matematika astronomi. Kedua metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bagi masyarakat awam yang ingin mengetahui jatuhnya 1 Ramadhan mungkin bakal kesulitan menggunakan kedua metode ini.

Tapi jangan khawatir, bagi masyarakat awam yang ingin mengetahui kapan 1 Ramadhan tiba bisa mencoba aplikasi Stellarium. Stellarium merupakan aplikasi yang sejatinya adalah planetarium dalam bentuk program komputer. Dari aplikasi ini, masyarakat bisa melihat ilustrasi astronomi dengan perhitungan kordinat bumi.

Cara menggunakannya pun cukup mudah. Pertama, tentukan dulu lokasi dimana anda berada. Setelah itu buka menu bar yang berada di sebelah kiri. Untuk mengetahui tanggal berapa 1 Ramadhan, anda cukup melihat tanggal berapa dalam kalendar masehi berposisi warna merah atau 1 Syawal. Setelah itu hitung mundur 30 hari dari tanggal tersebut. Selanjutnya, masukan hari yang dimaksud.

Usai memasukan tanggal hitung mundur tersebut lalu dicek apakah bulan sudah muncul disaat maghrib tiba. Jika belum, maka hari itu bukanlah 1 Ramadhan. Sebagai langlah lanjutan, anda coba hari berikutnya, bila terdapat bulan saat magrib tiba maka bisa dipastikan hari itulah 1 Ramadhan. Perlu diperhatikan, tingkat akurasi aplikasi ini memang belum bisa dipertanggungjawabkan. Karena itu, posisi aplikasi ini hanya sebatas memberikan gambaran kapan 1 Ramadhan tiba. Meski demikian, bagi yang ingin coba mengetahui kapan jatuhnya 1 Ramadhan bisa mengunduh aplikasi ini secara gratis di http://www.stellarium.org

VIDEO : Hisab dan Rukiyat, Metode Penentuan Awal Puasa

Awal Ramadhan ditentukan dengan cara Hisab atau Rukiyat yang dilakukan oleh sejumlah ahli Hilal terpercaya. Di Indonesia, kadang ada perbedaan saat menentukan awal Ramadhan.



Terapkan Hisaab Demi Umat, Ramadan 1 Agustus

Universitas Islam Eropa (UIE), Rotterdam, menyerukan agar umat mengaplikasikan hisaab (metode perhitungan, red) untuk menentukan bulan baru. Atas dasar ini Ramadan 1432H (2011) dimulai 1/8/2011.

"Berdasarkan perhitungan dapat dikatakan bahwa istimaa (konjungsi, red) akan terjadi pada 30/7/2011 atau 29 Sya'baan 1432 di Makkah pada pukul 21:40.02 dan di Negeri Belanda pada pukul 18:40.02," demikianDewan Ifta UIE melalui siaran pers yang diterima detikcom, Jumat (29/7/2011).

Dari perspektif Fiqh, untuk kemungkinan mengamati hilal (bulan baru, red) harus dipenuhi syurut (syarat-syarat, red) sebagai berikut:

1. Konjungsi harus dapat diamati minimal kira-kira 8 jam sebelum maghrib.

2. Matahari harus terlebih dulu tenggelam di ufuk (horizon, red) dan kemudian hilal harus tenggelam. Situasi sebaliknya yakni hilal tenggelam terlebih dulu disusul tenggelamnya matahari adalah tidak valid.

3. Posisi ketinggian hilal harus sekitar 4 derajat dari horizon dan permukaannya minimal harus 4 persen (Pendapat lain: ketinggian hilal harus 8 derajat dari horizon).

Kesimpulannya, konjungsi setelah maghrib tidak valid untuk menetapkan bahwa hari berikutnya adalah hari pertama Ramadan. Jadi, hari berikutnya adalah 30 Sya'baan bertepatan dengan 31 Juli. Ini berarti 1 Ramadan 1432 jatuh pada 1 Agustus 2011.

Penetapan awal Ramadan di Negeri Belanda sudah 30 tahun terakhir selalu bermasalah. Setiap tahun orientasi pada ru'yah (metode pengamatan, red) selalu menimbulkan situasi di mana umat muslim di Negeri Belanda memulai puasa pada hari berbeda-beda. Negeri Belanda termasuk negeri rendah secara geografi. Konsekuensinya, mengamati hilal dengan mata telanjang tidak dimungkinkan.

Selanjutnya berdasarkan tradisi juga terdeteksi bahwa ritualisasi ru'yah dalam konteks di Negeri Belanda memiliki dampak negatif terhadap umat. Oleh sebab itu disimpulkan bahwa penerapan hisaab adalah metode terbaik untuk menetapkan 1 Ramadan.

Menteri Agama: Awal Ramadan Mungkin Serentak

Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan awal puasa bulan Ramadan 2011 diperkirakan bisa berlangsung serempak --tidak ada perbedaan antara Muhamadiyah dan pemerintah--, yakni pada 1 Agustus 2011. Namun, Menteri Agama menegaskan, pihaknya akan terlebih dahulu melakukan Rukyah untuk menentukan awal 1 Ramadan.

“Menetapkan awal Ramadan ada dua cara, yaitu melalui hisab atau perhitungan, kedua dengan Rukyah atau melihat bulan. Cara pertama menghitung sudah dilakukan, antara lain oleh Muhammadiyah, dan mereka menetapkan awal Ramadan jatuh pada Senin 1 Agustus 2011,” kata Suryadharma Ali di Bekasi, Jumat 29 Juli 2011, saat meresmikan Masjid Al-Ihsan Jaka Permai Bekasi Barat, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Menurut Suryadharma, perhitungan dengan cara rukyah, akan dilakukan pada 31 Juli 2011. Pada sore hari dilakukan rukyah pada titik-titik yang ditentukan, untuk melihat, ada atau tidak adanya bulan. “Setelah seluruh tim melakukan proses rukyah, maka kira-kira pukul 20.00 WIB, akan dilakukan sidang Isbat,” katanya.

Dia menjelaskan, sidang Isbat tersebut untuk menetapkan apakah 1 Ramadan jatuh pada 1 Agustus atau 2 Agustus 2011. “Itu nanti akan kami tetapkan pada 31 Juli. Ada tanda-tanda yang kuat, awal Ramadan akan serempak. Mudah-mudahan pada 31 Juli langit cerah, sehingga tidak ada perbedaan pendapat di antara tim yang melakukan proses rukyah,” katanya.

Saat memberikan sambutan dalam acara peresmian Masjid Al-Ihsan Jaka Permai Bekasi Barat, Menteri Agama juga mensosialisasikan kegiatan "Maghrib Mengaji" di seluruh Indonesia.

"Itu merupakan solusi jitu untuk mengatasi maraknya pandangan-pandangan sesat di tengah masyarakat. Apalagi, saat ini akses informasi sudah semakin luas baik melalui televisi yang menyiarkan sinetron atau film setan, handphone serta laptop," katanya

Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa Ramadan 1432 H pada 1 Agustus 2011.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan hari Senin, 1 Agustus 2011 sebagai awal puasa Ramadhan 1432 Hijriah. Keputusan tersebut tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah nomor : 375/MLM/I.0/E/2011 tentang Penatapan hasil hisab Ramadhan, Syawal, dan dzulhijjah 1432 Hijriyah.

Maklumat dibacakan oleh Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas didampingi Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Oman Fathurohman di Kantor PP Muhammadiyah di Jl Cik Di Tiro Yogyakarta, Kamis (14/07/2011).

Berdasarkan hasil hisab yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah maka Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan tanggal 1 Ramadhan 1432 Hijriyah jatuh pada hari Senin, 1 Agustus 2011. Kemudian tanggal 1 Syawwal 1432 Hijriyah jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011.

Sementara itu itu, 1 Dzulhijjah 1432 jatuh pada hari jumat, 28 Oktober 2011 dan Idul Adha jatuh pada hari Minggu 6 November 2011.

Berkenaan dengan datangnya bulan Ramadhan 1432 H tersebut, PP Muhammadiyah menyampaikan berbagai imbauan kepada warga masyarakat. Diantaranya, mengajak warga Muhammadiyah untuk mengisi bulan suci Ramadhan dengan kegiatan Ibadah dan aktivitas organisasi secara intensif dan sinergis sesuai ketentuan agama dan persyarikatan.

Selain itu, mengimbau kepada semua pihak, terutama industri hiburan untuk lebih mengedepankan nilai-nilai moral dan kebaikan serta tidak menjual komoditi pornografi dan pornoaksi yang dapat merusak akhlak dan tantanan bangsa.

Sementara itu, mengenai kemungkinan adanya perbedaan penetapan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawwal dengan pihak lain, warga Muhammadiyah diimbau tetap berpegang pada hasil hisab.

"Kami mengimbau kepada warga Muhammadiyah tetap berpegang teguh kepada hasil hisab Majelis Tarjih dan Tajdid. Selain itu juga dapat memahami, menghargai dan menghormati perbedaan tersebut" ungkap Yunahar.


dikutip dari berbagai sumber
---


Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar